
Oleh: Bahrudin
Pendahuluan
Di era yang serba kompetitif ini, banyak orang tua modern terjebak dalam obsesi mendikte masa depan anak. Anak sering diperlakukan sebagai tabula rasa—kertas kosong yang bebas digambar sesuai kehendak orang tua. Dorongan untuk memenangkan kompetisi akademik, mengejar target nilai, dan memaksakan bakat tertentu telah mengabaikan satu kebenaran mendasar: setiap anak membawa benih alaminya sendiri.
Tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, telah lama memberikan cetak biru yang jauh lebih elegan dan manusiawi. Namun, filosofi ini kerap dianggap remeh dan hanya menjadi slogan upacara, tanpa pemaknaan mendalam dalam praktik pengasuhan sehari-hari. Padahal, filosofi Ki Hajar bukanlah tentang membiarkan anak tanpa arah, melainkan seni menuntun yang penuh presisi sebagaimana petani merawat tanaman kehidupan. Dengan memahami peran ini, orang tua membangun fondasi karakter yang kokoh tanpa merusak keunikan jiwa anak.
Artikel ini mengajak Anda merevitalisasi tujuh pilar utama pemikiran Ki Hajar Dewantara untuk menciptakan pengasuhan yang memerdekakan.
1. Filosofi Among: Menuntun, Bukan Menuntut
Konsep Sistem Among menegaskan bahwa pendidikan sejatinya adalah upaya menuntun kodrat anak-anak agar dapat mengembangkan kehidupan lahir dan batin menurut kodratnya masing-masing. Ki Hajar Dewantara memandang anak sebagai kodrat alam yang memiliki pembawaan masing-masing serta kemerdekaan untuk berbuat serta mengatur dirinya sendiri.
Anak bukanlah kertas kosong, melainkan kertas yang telah berisi coretan samar itulah kodratnya. Tugas orang tua adalah mempertebal coretan baik dan membiarkan coretan buruk tetap samar. Ki Hajar Dewantara bahkan menyangkal teori tabula rasa yang berkembang di Barat, karena teori tersebut tidak memerdekakan anak di dalam pengajaran dan pendidikan serta tidak menempatkan anak sebagai pusat proses pembelajaran.
Memaksa ikan untuk terbang atau burung untuk berenang hanya akan menciptakan konflik batin yang kelak meledak. Menuntun berarti memberi ruang bagi anak tumbuh sesuai garis alamnya sendiri, dengan pengawasan penuh kasih sayang, bukan tuntutan yang kaku.
Sumber: Jurnal Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama Jawa Timur; eprints.uny.ac.id (2011); Info Temanggung (2022); Kompasiana (2022).
2. Kodrat Alam dan Kodrat Zaman
Ki Hajar Dewantara mengajarkan bahwa pendidikan harus memperhatikan dua hal: lingkungan tempat anak berada (kodrat alam) dan waktu atau era di mana anak hidup (kodrat zaman). Kodrat alam tidak bisa dilepaskan dari individu peserta didik sebagai manusia, sedangkan kodrat zaman adalah bentuk penyesuaian terhadap zaman yang terus berubah. Dengan meyakini kedua kodrat yang melekat pada setiap anak, pendidik harus dapat melakukan perencanaan kegiatan pembelajaran dan pengembangan yang berkesinambungan.
Kesalahan klasik orang tua adalah mendidik anak menggunakan standar “zaman dulu” yang tidak relevan dengan tantangan masa depan yang serba digital dan dinamis. Didiklah anak dengan cara yang sesuai tuntutan zamannya, namun tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan dan kearifan lokal. Kombinasi sistem Among dengan adaptasi terhadap kodrat zaman dapat menghasilkan lingkungan belajar yang lebih dinamis dan responsif terhadap kebutuhan siswa di era digital.
Sumber: SMKN 10 Semarang (2022); Beranda Inspirasi (2024); Radar Semarang (2023); Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (2024).
3. Ing Ngarsa Sung Tulada: Di Depan Memberi Teladan
Langkah pertama kepemimpinan pendidikan adalah menjadi teladan. Semboyan yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara ini terdiri dari tiga kalimat: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Ing Ngarsa Sung Tulada berarti “di depan menjadi teladan” guru atau pendidik hendaknya mampu menjadi contoh yang baik atau panutan bagi anak didiknya.
Anak adalah peniru ulung: mereka tidak melakukan apa yang Anda katakan, melainkan apa yang Anda lakukan. Wibawa tidak dibangun melalui teriakan atau ancaman, melainkan melalui integritas tindakan yang konsisten setiap hari. Menjadi teladan berarti Anda harus selesai dengan disiplin diri sendiri sebelum meminta hal yang sama dari anak.
Sumber: Suara Merdeka (2024); batampos.co.id (2017); Kompas.com (2021).
4. Ing Madya Mangun Karsa: Di Tengah Membangun Semangat
Ketika anak mulai beranjak dewasa atau sedang berproses, posisikan diri Anda di samping mereka sebagai teman diskusi. Ing Madya Mangun Karsa berarti “di tengah membangun semangat, niat, maupun kemauan” guru harus bisa membangkitkan atau membangun niat dan kemauan anak didiknya. Di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide untuk berkarya.
Libatkan anak dalam pengambilan keputusan keluarga. Dengan membangun karsa (kehendak) dari dalam diri, anak belajar mandiri karena mereka memahami mengapa sesuatu harus dilakukan bukan karena takut hukuman atau haus pujian semu.
Sumber: tebuireng.online (2022); Kompas.com (2021).
5. Tut Wuri Handayani: Dari Belakang Memberi Dorongan
Ini adalah puncak kemandirian. Tut Wuri Handayani berarti “dari belakang memberi dorongan” guru harus berada di belakang untuk bisa memberikan dorongan, arahan, dan semangat. Sistem among yang bersifat kekeluargaan menanamkan jiwa yang merdeka sebagaimana kodrat alam. Guru menjadi “pemimpin yang berdiri di belakang tetapi mempengaruhi dengan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mewujudkan diri sendiri”.
Biarkan anak merasakan konsekuensi logis dari pilihan mereka agar mentalnya teruji. Keberanian Anda melepaskan kendali dan memberi kepercayaan adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap martabat anak sebagai manusia yang merdeka.
Sumber: National Geographic Indonesia (2022); Kompas.com (2021).
6. Pendidikan Budi Pekerti: Menyatukan Cipta, Rasa, Karsa
Menurut Ki Hajar Dewantara, budi pekerti, watak, atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai perpaduan antara cipta (kognitif) dan rasa (afektif) sehingga menciptakan karya (psikomotor). Pendidikan harus seimbang antara cipta, rasa, dan karsa.
Pendidikan bukan hanya soal mengisi otak dengan angka dan huruf, tetapi menghaluskan rasa dan memperkuat kemauan berbuat baik. Anak pintar tanpa karakter hanya akan menjadi ancaman bagi masyarakat. Keluarga merupakan tempat yang utama dan paling baik untuk melatih keterampilan sosial dan karakter baik bagi seorang anak.
Sumber: Universitas Negeri Gorontalo – Maryam Rahim (2024); SMKN 10 Semarang (2022).
7. Bermain Sebagai Kodrat Anak
Ki Hajar Dewantara sangat menekankan bahwa bermain adalah sarana belajar paling alami bagi anak. Pendidik harus memahami bahwa kodrat anak adalah bermain sehingga pembelajaran bisa diintegrasikan dengan bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain. Dalam diri anak sudah ada pikiran-perasaan-kemauan-tenaga (cipta-rasa-karsa/karya-pekerti) dan dalam bermain itulah semua yang ada pada anak dapat berjalan dengan baik.
Memaksa anak belajar formal seperti calistung yang kaku terlalu dini adalah pelanggaran terhadap hak alami mereka untuk bermain. Jadikan setiap momen belajar terasa seperti permainan yang menyenangkan dan penuh eksplorasi kreatif.
Sumber: SMPN 12 Bima Kota; Kompasiana (2024); core.ac.uk (2022).
Penutup: Menolak Teori Tabula Rasa
Ki Hajar Dewantara mengibaratkan setiap anak seperti kertas yang sudah terisi dengan tulisan namun masih samar dan belum jelas arti dan maksudnya. Dalam hal ini, pendidik bertugas untuk membantunya menebalkan dan memperjelas dengan tuntunan yang baik agar arti dan tujuannya dapat terlihat jelas.
Filosofi Ki Hajar Dewantara bukanlah nostalgia romantis masa lalu, melainkan panduan strategis untuk menghadapi kompleksitas pengasuhan abad ke-21. Pertanyaannya bukanlah apakah Anda mampu mengontrol setiap jengkal hidup anak, tetapi apakah Anda cukup berani memberi ruang bagi kodrat mereka untuk berkembang.
“Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.” Ki Hajar Dewantara
Daftar Pustaka
1. Kriswianti, T., & Nugrahaningsih. (2011). Implementasi Ajaran Ki Hajar Dewantara Dalam Pembelajaran Matematika Untuk Membangun Karakter Siswa. Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika. eprints.uny.ac.id
2. Widisaputri, M. T. (2017). Penerapan Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Tentang Sistem Among di SMP Taman Dewasa Kumendaman Yogyakarta. Skripsi S1, Universitas Negeri Yogyakarta.
3. Fatimah, S. (2013). Perjuangan Taman Siswa Yogyakarta Melawan Onderwijs-Ordonantie Tahun 1922-1933. Skripsi, Universitas Sebelas Maret Surakarta. (dikutip dalam National Geographic Indonesia, 2022)
4. Wiryopranoto, S., dkk. (2017). Ki Hajar Dewantara: Pemikiran dan Perjuangannya. (dikutip dalam Suara Merdeka, 2024)
5. Rahim, M. (2024). Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Budi Pekerti dan Pengembangannya. Blog Dosen, Universitas Negeri Gorontalo.
6. Rafael, S. P. (2022). Filosofi Pendidikan Nasional. Direktorat Pendidikan Profesi Guru, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.
7. Rosadi, I. D., Putranto, M. I., Sya’ni, A. A., Sumastini, & Soedjono. (2024). Analisis Implikasi Sistem Among dan Kodrat Zaman di TKIT Az-Zahra. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, 7(3), 9647–9652.
8. Dewantara, K. H. (2004). Pendidikan (Bagian Pertama). Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.
9. Ki Hajar Dewantara. (n.d.). Pendidikan, halaman 241. (dikutip dalam Kompasiana, 2020)
10. Mahesthi, D. D. A., & Pudyaningtyas, A. R. (2025). Implementasi Pendekatan Sistem Among Ki Hajar Dewantara dalam Mengembangkan Kemandirian Anak. Jurnal Kumara, Universitas Sebelas Maret.




