CILEGON, 30 April 2026 – PGRI Smart Learning and Character Center (SLCC) Kota Cilegon kembali mengukuhkan posisinya sebagai lokomotif transformasi digital di Banten. Melalui Webinar Seri ke-4 bertajuk “AI Bukan Masa Depan, Tapi Sekarang!”, ratusan guru berkumpul secara virtual untuk menyaksikan praktik baik digitalisasi pendidikan yang berpusat di SDN Cikerut.

Meskipun sempat menghadapi tantangan stabilitas jaringan, acara tetap berlangsung dengan intensitas tinggi dan kualitas materi yang memukau. Fenomena ini menjadi refleksi nyata dari teori “Antifragility” oleh Nassim Nicholas Taleb bahwa sistem yang kuat justru tumbuh dan semakin solid di tengah guncangan teknis.

Ibu Wulan, selaku Ketua PGRI SLCC Kota Cilegon, dalam sambutannya menekankan pentingnya keberanian untuk memulai.

 “Kami di SLCC berkomitmen bahwa teknologi tidak boleh berhenti hanya karena kendala infrastruktur. Peserta hari ini membuktikan bahwa semangat belajar guru Cilegon jauh lebih kuat daripada gangguan sinyal mana pun. Ini bukan sekadar webinar, ini adalah gerakan peningkatan skill mengajar langsung dari jantung praktiknya,” tegas Ibu Wulan.

Bahrudin, S.Pd., M.Pd, Ketua PGRI Kota Cilegon sekaligus Kepala SDN Cikerut, selaku pembicara utama, memaparkan bagaimana AI diintegrasikan untuk mencapai Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Merujuk pada konsep Fullan & Langworthy (2014), AI digunakan untuk mendorong kemitraan pembelajaran baru antara guru dan siswa.

“AI bukan untuk menggantikan nurani guru, melainkan untuk membebaskan guru dari tugas administratif yang repetitif, sehingga kita bisa lebih fokus pada pengembangan karakter dan potensi unik setiap siswa,” ujar Bahrudin di hadapan para peserta GMeet.

Antusiasme peserta tercermin dari pernyataan Ibu Yusmawati, salah satu guru yang mengikuti kegiatan hingga tuntas. Meski ada gangguan jaringan, ia merasa kualitas ilmu yang didapatkan sangat eksklusif.

“Walaupun tadi sempat ada kendala teknis jaringan, tapi acaranya tetap keren dan luar biasa! Ilmu yang dibagikan Pak Bahrudin sangat praktis dan bisa langsung saya terapkan di kelas besok. Ini benar-benar upgrade skill yang kami butuhkan sebagai guru adaptif,” ungkap Ibu Yusmawati dengan antusias.

Kegiatan ini ditutup dengan penegasan bahwa digitalisasi adalah keniscayaan. Sesuai dengan kerangka kerja TPACK (Mishra & Koehler), integrasi teknologi yang sukses adalah saat guru mampu mengawinkan pengetahuan teknologi dengan pedagogi yang tepat. PGRI SLCC Cilegon telah membuktikan bahwa mereka berada di jalur yang benar untuk mencetak “Guru Adaptif, Siswa Produktif.”

Wadah pengembangan profesi guru yang berfokus pada penguasaan teknologi pembelajaran abad ke-21 untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang inovatif dan berkarakter.

Silakan download Materinya di sini