BANTEN, 4 November 2026 – Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP) PGRI Provinsi Banten menyelenggarakan Workshop Transformasi Persekolahan PGRI dengan tema “Transformasi Satuan Pendidikan PGRI Menjadi Sekolah Unggul, Berdaya Saing dan Dipercaya Masyarakat.”

Kegiatan yang berlangsung di Le Semar Hitel Serang, pada 4–6 November 2026 ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat eksistensi sekolah-sekolah PGRI melalui peningkatan mutu pengelolaan kelembagaan, kualitas pembelajaran, profesionalisme pendidik, serta kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan yang diselenggarakan PGRI.

Ketua YPLP PGRI Kota Cilegon turut hadir dalam kegiatan tersebut dengan membawa dua orang guru untuk mengikuti seluruh rangkaian workshop. Kehadiran delegasi Kota Cilegon merupakan bentuk keseriusan dalam membangun kapasitas sumber daya manusia sekaligus mendorong transformasi satuan pendidikan PGRI di daerah.

Ketua YPLP PGRI Kota Cilegon menyampaikan, keikutsertaan dalam workshop ini bukan sekadar memenuhi undangan atau mengikuti kegiatan seremonial, melainkan menjadi bagian dari ikhtiar untuk membawa perubahan nyata bagi sekolah-sekolah PGRI.

“Transformasi sekolah harus dimulai dari perubahan pola pikir, tata kelola, budaya kerja, dan kualitas layanan pendidikan. Kami berharap dua guru yang mengikuti kegiatan ini dapat menyerap pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh, kemudian membagikannya serta mengimplementasikannya di lingkungan satuan pendidikan. Sekolah PGRI harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan membuktikan bahwa kualitas menjadi kekuatan utama dalam membangun kepercayaan publik,” ungkapnya.

Kegiatan ini juga dihadiri Ketua YPLP PGRI Pusat, Prof. Supardi U.S., M.M., M.Pd., beserta sekretarisnya. Sementara itu, unsur PGRI Provinsi Banten diwakili Sekretaris PGRI Provinsi Banten, Mansyur.

Dalam laporannya, Cucu Saefullah selaku pelaksana kegiatan workshop menyampaikan bahwa kegiatan ini semula direncanakan berlangsung pada waktu sebelumnya, namun karena beberapa pertimbangan pelaksanaannya mengalami penjadwalan ulang sehingga dapat terlaksana pada 4–6 November 2026.

Ia mengajak seluruh peserta untuk mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh, aktif, dan penuh keseriusan. Pengetahuan serta pengalaman yang diperoleh diharapkan tidak berhenti sebagai bahan diskusi selama workshop, tetapi benar-benar diaplikasikan dalam pengelolaan dan pengembangan sekolah masing-masing.

Dalam gambaran yang disampaikan pada kegiatan tersebut, kondisi YPLP PGRI dianalogikan seperti sebuah kerucut. Analogi ini menggambarkan adanya tantangan dan ketimpangan kondisi kelembagaan, terutama berkaitan dengan kepemilikan aset dan lahan sekolah.

Persoalan aset menjadi salah satu aspek penting yang perlu mendapatkan perhatian. Sebab, keberlanjutan sekolah tidak hanya ditentukan oleh kualitas pembelajaran, tetapi juga ditopang oleh kepastian status kelembagaan, ketersediaan sarana prasarana, serta kekuatan aset yang menjadi fondasi penyelenggaraan pendidikan.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa transformasi YPLP PGRI harus dilakukan secara menyeluruh. Penguatan kelembagaan, penataan aset, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan inovasi pengelolaan sekolah perlu berjalan beriringan.

Ketua YPLP PGRI Pusat: Perjuangan PGRI untuk Guru dan Pendidikan Harus Terus Dilanjutkan

Dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan workshop, Ketua YPLP PGRI Pusat, Prof. Supardi U.S., M.M., M.Pd., mengingatkan kembali perjalanan panjang perjuangan PGRI dalam memperjuangkan pendidikan dan meningkatkan martabat profesi guru di Indonesia.

Ia menyinggung salah satu tonggak penting perjuangan tersebut, yakni lahirnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Regulasi tersebut menjadi bagian penting dalam pengakuan profesi, kedudukan, serta perlindungan dan kesejahteraan guru.

Namun, perjuangan tidak berhenti setelah undang-undang dilahirkan. Berbagai dinamika dan gugatan terhadap ketentuan maupun implementasinya menunjukkan bahwa perjuangan untuk memperkuat profesi guru dan meningkatkan mutu pendidikan masih membutuhkan perhatian bersama.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa workshop transformasi persekolahan ini harus menjadi perhatian khusus bagi seluruh peserta. Kegiatan tersebut diharapkan bukan hanya menjadi agenda pertemuan biasa, melainkan meninggalkan kesan, pemikiran, dan terutama perubahan nyata dalam pengelolaan sekolah PGRI.

Istilah transformasi harus dimaknai sebagai keberanian untuk berubah, memperbaiki kekurangan, melakukan pembaruan, serta membangun masa depan sekolah PGRI yang lebih berkualitas.

Dengan demikian, sekolah PGRI tidak cukup hanya mempertahankan keberadaannya, tetapi harus mampu tumbuh menjadi lembaga pendidikan yang unggul, memiliki daya saing, dan mendapatkan kepercayaan masyarakat.

Setelah menyampaikan sambutannya, Prof. Supardi U.S. secara resmi membuka Workshop Transformasi Persekolahan PGRI Provinsi Banten.

Transformasi Bukan Sekadar Perubahan, tetapi Komitmen untuk Maju

Workshop ini diharapkan menjadi titik awal penguatan kembali sekolah-sekolah PGRI di Provinsi Banten. Tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang menuntut setiap satuan pendidikan untuk beradaptasi, berinovasi, dan meningkatkan kualitas layanan.

Sekolah PGRI harus memiliki identitas dan keunggulan yang jelas, didukung kepemimpinan yang visioner, guru yang profesional, tata kelola yang akuntabel, serta pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan transformasi bukan terletak pada seberapa banyak kegiatan yang dilaksanakan, melainkan seberapa besar perubahan dan peningkatan mutu yang dirasakan oleh peserta didik, orang tua, dan masyarakat.

Sekolah PGRI harus berani bertransformasi, bukan sekadar bertahan, tetapi tumbuh menjadi pilihan pendidikan yang unggul dan dipercaya masyarakat.