Refleksi Seorang Aktivis di Tengah Ujian Kesehatan

Oleh: Bahrudin

Ada kalanya kehidupan menghentikan langkah seseorang bukan dengan kegagalan, bukan dengan kehilangan jabatan, bukan pula dengan keterbatasan materi. Namun dengan sesuatu yang sangat sederhana sekaligus sangat berharga: kesehatan.

Sebagai seorang aktivis, saya terbiasa hidup dalam ritme yang cepat. Bertemu banyak orang, berbicara di depan forum, berdiskusi, menghadiri kegiatan, dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Saya berpikir selama niat baik masih menyala, tubuh akan selalu mampu mengikuti.

Ternyata saya keliru.

Hari-hari ini saya merasakan sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Berbicara sedikit keras menimbulkan rasa sakit. Menggerakkan rahang terasa nyeri. Bahkan sentuhan ringan pada wajah dapat menghadirkan rasa yang sulit dijelaskan. Hembusan angin saat mengendarai motor membuat wajah seperti ditusuk. Udara dingin dari pendingin ruangan pun terkadang menjadi sesuatu yang harus dihindari.

Dalam kondisi seperti itu, saya mulai memahami bahwa rasa sakit bukan sekadar persoalan fisik. Ia menyentuh pikiran, emosi, bahkan keyakinan seseorang.

Saat malam tiba dan suasana menjadi sunyi, muncul pertanyaan yang mungkin pernah hadir di hati setiap manusia yang sedang diuji:

Ya Allah, mengapa harus seperti ini?”

Namun semakin lama saya merenung, pertanyaan itu perlahan berubah menjadi:

“Ya Allah, apa yang ingin Engkau ajarkan melalui semua ini?”

Ketika Tubuh Berhenti, Jiwa Mulai Berbicara

Dalam kesibukan, sering kali manusia merasa dirinya kuat. Agenda penuh dianggap sebagai tanda produktivitas. Kehadiran di berbagai kegiatan dianggap sebagai bukti pengabdian.

Namun sakit datang dengan bahasa yang berbeda.

Ia memaksa kita berhenti.

Ia menutup pintu-pintu kesibukan agar kita masuk ke ruang perenungan.

Tiba-tiba kita memiliki waktu untuk memperhatikan napas yang selama ini dianggap biasa. Kita mulai mensyukuri kemampuan mengunyah makanan, berbicara tanpa rasa sakit, tidur dengan nyaman, dan tersenyum tanpa nyeri.

Ternyata nikmat terbesar bukanlah kekuasaan, penghargaan, atau popularitas.

Nikmat terbesar adalah kesehatan yang sering terlupakan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”

(HR. Bukhari)

Betapa dalam makna hadits ini.

Selama sehat, kita merasa kesehatan adalah sesuatu yang pasti. Kita baru menyadari nilainya ketika ia mulai berkurang.

Sakit Bukan Tanda Allah Membenci

Banyak orang bertanya, “Apakah sakit ini hukuman?”

Pertanyaan itu wajar.

Namun Islam mengajarkan bahwa tidak semua penderitaan adalah hukuman.

Bisa jadi justru sebaliknya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, kegundahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka setiap rasa nyeri yang dirasakan, setiap malam yang sulit dilalui, setiap ketidaknyamanan yang muncul, bisa menjadi jalan penggugur dosa.

Mungkin kita tidak memahami hikmahnya sekarang.

Namun Allah tidak pernah menyia-nyiakan kesabaran hamba-Nya.

Aktivis Pun Seorang Manusia

Kadang seorang aktivis terlihat kuat di mata banyak orang.

  • Selalu hadir.
  • Selalu memberi semangat.
  • Selalu menjadi tempat bertanya.

Namun di balik itu, seorang aktivis tetaplah manusia.

  • Ia bisa lelah.
  • Ia bisa sakit.
  • Ia bisa menangis.
  • Ia bisa merasa takut.

Dan tidak ada yang salah dengan itu.

Justru sakit mengajarkan kerendahan hati.

Bahwa sehebat apa pun seseorang mengatur organisasi, mengelola kegiatan, atau memimpin masyarakat, pada akhirnya ia tetap bergantung kepada Allah.

Tidak ada jabatan yang mampu menghilangkan rasa sakit.

Tidak ada penghargaan yang mampu membeli kesehatan.

Tidak ada kekuasaan yang mampu menjamin satu detik kehidupan.

Semua berada dalam genggaman Allah SWT.

Allah Tidak Pernah Salah Memilih Hamba yang Diuji

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

(QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini bukan sekadar kalimat penghibur.

Ia adalah jaminan dari Allah.

Jika hari ini kita masih mampu bertahan, berarti Allah mengetahui bahwa kita memang mampu melewati ujian ini.

  • Mungkin tidak mudah.
  • Mungkin menyakitkan.
  • Mungkin membuat air mata jatuh di malam hari.

Tetapi Allah tidak pernah salah menilai kekuatan hamba-Nya.

Belajar dari Nabi Ayyub AS

Ketika berbicara tentang sakit, sulit untuk tidak mengingat kisah Nabi Ayyub AS.

Beliau kehilangan kesehatan dalam waktu yang sangat lama. Kehilangan harta. Kehilangan banyak hal yang dicintai.

Namun yang tidak pernah hilang adalah keyakinannya kepada Allah.

Doa beliau yang diabadikan dalam Al-Qur’an sangat singkat namun penuh makna:

 “Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”

(QS. Al-Anbiya: 83)

 

Perhatikan.

  • Beliau tidak mengeluh.
  • Tidak mempertanyakan keadilan Allah.
  • Beliau hanya menyampaikan keadaan dirinya dan tetap memuji kasih sayang Allah.

Mungkin Ini Adalah Jeda yang Diperlukan

Ada kemungkinan bahwa selama ini saya terlalu sibuk melayani manusia hingga kurang memberi waktu kepada diri sendiri.

Ada kemungkinan saya terlalu fokus pada pekerjaan hingga lupa menikmati kesehatan yang Allah berikan.

Dan ada kemungkinan sakit ini adalah cara Allah memanggil saya untuk beristirahat.

  • Bukan untuk menyerah.
  • Bukan untuk berhenti berjuang.
  • Tetapi untuk mengisi ulang jiwa yang lelah.

Karena bahkan kendaraan terbaik pun membutuhkan waktu untuk masuk bengkel.

Apalagi manusia.

Kata-Kata Bijak dari Rasa Sakit

Sakit mengajarkan bahwa:

Tidak semua perjuangan harus dilakukan dengan berlari.

Kadang kesabaran adalah bentuk perjuangan tertinggi.

Orang yang tampak kuat pun membutuhkan pertolongan.

Nikmat kesehatan baru terasa nilainya ketika mulai berkurang.

Doa yang lahir dari rasa sakit sering kali lebih tulus daripada doa yang lahir dari kelapangan.

Dan satu kalimat yang terus saya pegang:

 “Ketika Allah mengambil sementara satu nikmat, sering kali Dia sedang membuka pintu hikmah yang lebih besar.”

Penutup

Hari ini saya mungkin belum dapat berbicara dengan nyaman. Rahang masih terasa nyeri. Wajah masih sensitif terhadap sentuhan, angin, maupun udara dingin.

Tetapi saya memilih percaya.

  • Bahwa setiap rasa sakit memiliki batas.
  • Bahwa setiap malam memiliki fajar.
  • Bahwa setiap ujian memiliki akhir.
  • Dan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang bersabar.

Sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

(QS. Al-Insyirah: 5-6)

Maka hari ini saya belajar menerima.

Bukan karena saya menyerah pada sakit.

Melainkan karena saya percaya bahwa di balik rasa sakit ini, Allah sedang menulis pelajaran yang suatu hari nanti akan saya pahami dengan penuh syukur.

“Ya Allah, jika kesembuhan masih harus menunggu, kuatkan kesabaranku. Jika ujian ini masih harus berlangsung, teguhkan imanku. Dan jika saat kesembuhan itu tiba, jadikan aku hamba yang lebih bersyukur daripada sebelumnya.” Aamiin.