
Cilegon, 28 Januari 2026 – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Cilegon melakukan langkah strategis dalam mempercepat digitalisasi pendidikan di “Kota Baja”. Dalam pertemuan koordinasi yang berlangsung hangat di SMPN 5 Cilegon, disepakati rencana kolaborasi masif untuk melatih para guru melalui pendampingan dari 20 fasilitator Google level internasional yang dimiliki oleh SMPN 5 Cilegon.
Langkah ini diambil untuk menyelaraskan visi Pemerintah Kota Cilegon dalam “menyulap” sekolah-sekolah di Cilegon menjadi sekolah digital, sekaligus menjawab tantangan transformasi pembelajaran abad ke-21.
Dr. Ade Solahudin., Kepala SMPN 5 Cilegon, sebagai tuan rumah menyambut baik inisiatif ini. SMPN 5 yang saat ini merupakan kandidat kuat Sekolah Rujukan Google (Google Reference School) siap menjadi laboratorium pengembangan.
“Kami memiliki 20 guru fasilitator dengan kapabilitas internasional yang sudah berada di Level 1. Kami siap menyebarkan ilmu ini ke seluruh kecamatan di Cilegon. Menjadi Sekolah Rujukan Google memang memiliki syarat berat, salah satunya penggunaan perangkat (Chromebook) yang harus mencapai 80% dari populasi siswa. Namun, bagi kami, yang terpenting adalah organisasi seperti PGRI bisa memfasilitasi pengembangan potensi ini agar ilmu digital tidak berhenti di SMPN 5 saja,” ujar Dr. Ade.
Hadiyanto, Koordinator Pengawas Sekolah, memberikan tinjauan dari sisi regulasi. Ia menekankan bahwa langkah ini sejalan dengan kebijakan pusat.
“Pemanfaatan platform digital bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Hal ini telah tertuang dalam payung hukum terkait pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran. Kita harus memastikan perangkat yang diberikan pemerintah benar-benar berdampak pada kualitas belajar siswa, bukan sekadar pajangan. Kolaborasi PGRI dan SMPN 5 akan menjembatani kesenjangan kompetensi antar generasi guru,” jelasnya.
Suleman, Bidang Keanggotaan dan Digitalisasi PGRI Kota Cilegon, menekankan pentingnya manajemen data dan keanggotaan berbasis digital.
“Digitalisasi pembelajaran harus dibarengi dengan administrasi yang modern. PGRI akan terus mengawal agar setiap anggota memiliki akses terhadap pelatihan ini. Kami ingin memastikan tidak ada guru di Cilegon yang tertinggal dalam ekosistem digital ini.”
Bahrudin, S.Pd., M.Pd., Ketua PGRI Kota Cilegon, mengapresiasi keterbukaan SMPN 5 Cilegon.
“Kami bangga SMPN 5 menjadi pionir. PGRI Kota Cilegon akan memfasilitasi distribusi narasumber ke tiap pengurus cabang di kecamatan. Kami akan menggerakkan 20 guru ahli dari sini untuk melakukan pengimbasan secara serentak. Ini adalah kerja nyata PGRI dalam meningkatkan harkat dan kompetensi guru di era AI dan digitalisasi.”
Saiful (Pak Ipul) dan Bu Nia selalu Narasumber Google dan Fasilitator, menyatakan kesiapannya untuk terjun langsung ke lapangan.
“Kami siap mengombinasikan ekosistem Google Workspace for Education dengan kebutuhan lokal di sekolah-sekolah Cilegon. Fokus kami bukan hanya cara memakai alatnya, tapi bagaimana mengubah pola pikir (mindset) agar pembelajaran lebih interaktif, kolaboratif, dan efisien.”
Fadli, Sekretaris PGRI Cabang Cibeber, yang turut hadir menambahkan perspektif dari tingkat cabang.
“Kami di tingkat kecamatan sudah sangat menantikan program pengimbasan ini. Cibeber siap menjadi salah satu basis awal pelatihan. Sinergi ini akan memudahkan kami di akar rumput untuk mengakses sumber daya pelatihan berkualitas internasional.”
Kolaborasi ini didasarkan pada beberapa literasi dan referensi kunci dalam dunia pendidikan modern:
- Google Reference School Framework: Program global Google untuk sekolah yang telah berhasil mengintegrasikan teknologi Google secara inovatif dalam pembelajaran.
- TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge): Kerangka kerja yang mengintegrasikan pengetahuan teknologi, pedagogi, dan konten materi untuk menghasilkan pembelajaran digital yang efektif (Mishra & Koehler, 2006).
- Digital Literacy Global Framework (UNESCO): Menekankan bahwa literasi digital bukan sekadar bisa menggunakan perangkat, tetapi kemampuan untuk menciptakan konten, berkomunikasi secara etis, dan memecahkan masalah di dunia digital.
- Permendikdasmen No. 1: Terkait standar sarana dan prasarana serta pemanfaatan teknologi informasi di satuan pendidikan.




Luar biasa dengan adanya pengembangan pembelajaran berbasis digital diharapkan kemampuan siswa dapat meningkatkan mutu pembelajaran juga lebih kreatif dan digitalisasi dapat merarta di seluruh kota cilegon
Luar biasa PGRI Kota Cilegon, lanjutkan… Ciwandan siap untuk bertransformasi.
Mantap dan keren, PGRI Kota Cilegon selalu mengapresiasi program- program baru demi pendidikan anak Indonesia hebat. Semoga Program ini menjadi pilot projek bagi daerah lain.
Kolaborasi ini menunjukkan kerja nyata PGRI yang visioner dan relevan dengan tantangan pendidikan di era AI dan digitalisasi. Kehadiran narasumber dan fasilitator yang siap turun langsung ke lapangan menegaskan bahwa transformasi digital pendidikan tidak berhenti pada penguasaan alat, tetapi pada perubahan mindset guru agar pembelajaran lebih bermakna, kolaboratif, dan kontekstual. Sinergi antara PGRI, Google Workspace for Education, dan kebutuhan lokal sekolah sebagaimana selaras dengan TPACK, UNESCO Digital Literacy Framework, dan kebijakan nasional menjadi langkah strategis dalam meningkatkan harkat, kompetensi, dan profesionalisme guru hingga ke akar rumput.