CILEGON – Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan Kota Cilegon. Salah satu putra terbaik daerah, Ibu Ucu Sa’adah (Kepala Sekolah SDN Ciora, Banten), tercatat secara resmi sebagai tim kontributor dalam penyusunan dokumen strategis nasional, yakni “Buku Panduan Implementasi Pendidikan Kebencanaan untuk Satuan Pendidikan”.

Buku ini diterbitkan oleh Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada tahun 2026, dengan pengarah utama Menteri Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed..

Berikut adalah ulasan mendalam mengenai urgensi dan substansi buku ini bagi rekan-rekan guru di Cilegon.

Urgensi Pendidikan Kebencanaan: Fakta dan Data

Penyusunan buku ini bukan tanpa alasan. Indonesia, yang berada di Ring of Fire, menuntut kesiapsiagaan luar biasa dari sektor pendidikan. Berdasarkan data yang dihimpun dalam panduan ini:

  • Terdapat lebih dari 500 ribu satuan pendidikan dengan 60 juta murid yang terpapar ancaman bencana.
  • Sebanyak 78% sekolah berada di wilayah risiko gempa bumi dan 38% di wilayah risiko banjir.
  • Data BNPB tahun 2023 menunjukkan lebih dari 50% satuan pendidikan terpapar lebih dari satu jenis ancaman bencana.

Keterlibatan praktisi pendidikan dari Cilegon dalam penyusunan buku ini menjadi bukti bahwa pengalaman lapangan guru-guru kita diakui sangat vital dalam merumuskan strategi keselamatan nasional.

Substansi Buku: Integrasi, Bukan Beban Baru

Bagi rekan-rekan guru PGRI, poin terpenting dari panduan ini adalah pendekatannya yang tidak menambah mata pelajaran baru. Pendidikan kebencanaan diimplementasikan melalui strategi integrasi yang fleksibel:

  •  Intrakurikuler:

   Materi kebencanaan disisipkan dalam mata pelajaran yang relevan. Contohnya, dalam pelajaran Bahasa Indonesia atau Sains, siswa diajak berdiskusi mengenai “Seberapa aman sekolah kita jika terjadi gempa?” atau membuat denah risiko sederhana.

  •  Kokurikuler:

   Dilakukan melalui proyek penguatan karakter. Salah satu contoh modul yang disarankan adalah tema “Pemulihan Pasca Gempa Bumi” untuk jenjang SMA/SMK, di mana siswa dilatih melakukan rapid assessment kerusakan lingkungan sekolah.

  • Ekstrakurikuler:

   Pemanfaatan kegiatan seperti Pramuka dan PMR untuk simulasi teknis yang lebih mendalam guna membangun ketangguhan fisik dan mental.

  •  Budaya Sekolah (Mitigasi Struktural & Non-Struktural):

   Sekolah didorong memiliki SOP Kesiapsiagaan dan melakukan Simulasi Evakuasi secara rutin. Mitigasi non-struktural ini juga mencakup kampanye penyadaran kepada seluruh warga sekolah.

Membangun Generasi Tangguh (Resilient)

Tujuan akhir dari panduan ini adalah menciptakan peserta didik yang memiliki daya lenting (resilient), yakni kemampuan untuk beradaptasi dan bangkit kembali saat menghadapi situasi sulit atau bencana.

Buku ini juga menekankan konsep Sinergi Multihelix, yaitu kolaborasi antara pemerintah, sekolah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media dalam pengurangan risiko bencana. Dengan adanya perwakilan Cilegon dalam tim penyusun, diharapkan sekolah-sekolah di Cilegon dapat menjadi role model dalam penerapan sekolah aman bencana di tingkat nasional.

Sumber Rujukan: Pusat Kurikulum dan Pembelajaran. (2026). Panduan Implementasi Pendidikan Kebencanaan untuk Satuan Pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.

Klik Panduan

Atau dengerin aja disini