CILEGON, – Keberhasilan sebuah institusi pendidikan tidak diukur dari megahnya bangunan, melainkan dari kualitas proses dan hasil belajarnya. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya fenomena sekolah yang mengalami kemunduran (stagnasi). Mengapa hal ini terjadi?

Berdasarkan analisis mendalam dan rujukan para ahli manajemen pendidikan, berikut adalah penyebab utama kemunduran sekolah yang perlu kita waspadai bersama:

1. Krisis Kepemimpinan Instruksional

Kepala sekolah adalah nakhoda. Menurut Philip Hallinger, sekolah akan kehilangan arah jika pemimpinnya tidak menjalankan fungsi Instructional Leadership. Saat Kepala Sekolah hanya terjebak pada urusan administratif dan takut mengambil keputusan tegas, visi sekolah akan terkubur oleh rutinitas yang tidak produktif.

2. Rendahnya “Teacher Efficacy” (Zona Nyaman)

Pakar pendidikan John Hattie dalam bukunya Visible Learning menekankan bahwa faktor guru memiliki pengaruh paling besar terhadap prestasi siswa. Ketika guru berhenti belajar, menolak inovasi, dan hanya fokus pada penyelesaian administrasi daripada kualitas pembelajaran, maka secara otomatis kualitas lulusan akan merosot.

3. Budaya Sekolah yang Toksik (Toxic School Culture)

Terrence E. Deal & Kent D. Peterson menjelaskan bahwa budaya sekolah adalah “ruh” dari pendidikan. Sekolah yang membiarkan pelanggaran disiplin tanpa evaluasi dan tidak mengapresiasi prestasi akan menciptakan lingkungan yang layu. Tanpa budaya belajar yang sehat, semangat kompetisi positif akan hilang.

4. Absennya Siklus Mutu dan Evaluasi

Banyak sekolah terjebak dalam “Insanity Loop”—melakukan hal yang sama berulang kali namun mengharapkan hasil yang berbeda. Tanpa analisis data mutu yang jujur dan tindak lanjut nyata (siklus Plan-Do-Check-Act), masalah yang sama akan terus menghantui setiap tahun ajaran.

5. Gagap Terhadap Perubahan Zaman

Dunia berubah dengan cepat. Tony Wagner dalam The Global Achievement Gap mengingatkan bahwa jika pendekatan kita masih menggunakan cara lama untuk menghadapi tantangan baru (Gen Z dan Alpha), maka sekolah akan kehilangan relevansinya. Inovasi teknologi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

6. Manajemen dan Kolaborasi yang Lemah

Sekolah bukanlah one-man show. Kemunduran sering dipicu oleh manajemen anggaran yang tidak tepat sasaran serta tertutupnya pintu kolaborasi dengan orang tua dan masyarakat. Sekolah yang menutup diri akan kehilangan dukungan moral maupun material.

Kesimpulan Tegas: Sebuah Refleksi
Sekolah mundur bukan karena kekurangan fasilitas, tetapi karena kekurangan kemauan untuk berubah. Fasilitas hanyalah alat; manusia di dalamnya adalah penggeraknya.
Sekolah bisa diselamatkan, asalkan kita:

  • Berani mengakui masalah secara jujur.
  • Memperkuat kepemimpinan yang bervisi.
  • Membangun komunitas belajar (Professional Learning Communities).
  • Bergerak serentak demi masa depan siswa.

Mari seluruh anggota PGRI Kota Cilegon, kita jadikan momentum ini untuk berefleksi dan bertransformasi. Karena sejatinya, tugas kita bukan sekadar mengajar, tapi memastikan setiap anak bangsa mendapatkan pendidikan terbaik di masanya.

Penulis: Admin PGRI Kota Cilegon
Kategori: Opini & Edukasi