Jakarta, 29 November 2025-Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menyelenggarakan puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional (HGN) 2025 di BRItama Arena Kelapa Gading Jakarta Utara, Sabtu 29 November 2025. Acara puncak peringatan HUT PGRI dihadiri lebih dari 10.000 guru seluruh Indonesia, dan hanya sekitar 7500 guru, tendik, dan para undangan yang dapat memasuki tempat acara di arena BRItama. Dalam acara puncak ini diberikan pula penghargaan Dwija Praja Nugraha kepada gubernur, bupati, walikota yang berkomitmen tinggi dan peduli dalam peningkatan mutu guru dan pendidikan.

Dalam rangkaian peringatan HUT ke-80 PGRI tersebut, berbagai kegiatan telah dilaksanakan oleh pengurus PGRI dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga cabang dan ranting sejak bulan Oktober hingga akhir November. Berbagai kegiatan seperti lomba olahraga, seni, pembelajaran, guru inovatif, seminar, workshop, dan webinar series telah dilaksanakan di berbagai daerah seluruh Indonesia. Sebelumnya, pada tanggal 26-28 November 2025, bertempat di Gymnastium Universitas Pendidikan Indonesia Bandung Jawa Barat telah berlangsung kegiatan Pekan Olahraga, Seni, dan Pembelajaran (Porsenijar) PGRI tingkat nasional yang diikuti ribuan guru dan tendik dari seluruh provinsi di Indonesia.

Selain itu, PGRI bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) mengadakan kegiatan donor darah bagi para pengurus dan anggota PGRI seluruh Indonesia. Kegiatan kemanusiaan donor darah ini ditargetkan menyasar lebih dari 20.000 guru dan tendik di seluruh Indonesia. Pada acara puncak peringatan ini, dilaksanakan penandatanganan MoU antara Ketua Umum PMI Jusuf Kalla dengan Ketua Umum PB PGRI, Unifah Rosyidi.

Dalam sambutan Ketua Umum PB PGRI menjelang puncak acara, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd, menegaskan bahwa PGRI akan terus memperjuangkan hak-hak guru, terutama terkait kesejahteraan, peningkatan kompetensi, dan perlindungan hukum.

Lebih lanjut Unifah Rosyidi menekankan bahwa dunia pendidikan tengah menghadapi tantangan besar akibat perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, serta tuntutan keterampilan abad ke-21. Ia menyerukan agar guru terus berinovasi dan memperkuat kompetensi untuk menghadapi perubahan tersebut.

Terkait maraknya kasus kriminalisasi guru, PGRI mendesak pemerintah dan DPR untuk memasukkan Perlindungan Guru secara eksplisit dalam rancangan peraturan perundang-undangan, termasuk dalam RUU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). PGRI juga meminta agar pemerintah tetap mempertahankan Tunjangan Profesi Guru dan Dosen (TPGD) minimal sebesar 1 kali gaji pokok, menuntaskan sertifikasi, memperkuat peran LPTK dalam menghasilkan sumber daya guru berkualitas, mempercepat rekrutmen ASN bagi guru honorer, memastikan kesetaraan antara guru negeri dan swasta, serta mendukung wajib belajar 13 tahun dimulai dari PAUD TK.

PGRI menyatakan dukungan terhadap program Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang menempatkan peningkatan kualitas pendidikan sebagai salah satu prioritas nasional.

PGRI menyatakan keprihatinannya atas terjadinya musibah banjir bandang di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Semoga musibah tersebut segera berakhir dan saudara-saudara kita diberikan keselamatan. Mengakhiri amanatnya, Unifah Rosyidi mengapresiasi seluruh guru di Indonesia yang tetap berkomitmen menjalankan tugas pendidikan dalam berbagai kondisi. “Guru jangan hanya indah dipidatokan tapi tidak tampak keberpihakannya dalam kebijakan. Sudah saatnya semua pihak memenuhi harapan dari Pak Presiden agar seluruh pemangku kepentingan berpihak kepada wong cilik, kaum guru. Dedikasi guru adalah penerang bagi bangsa dan masa depan Indonesia,” ujarnya.

Sumber Press rilis PB PGRI