
Kutipan ini terdengar sederhana, tapi dampaknya mengerikan. Kita hidup di zaman di mana anak-anak tumbuh dengan informasi berlimpah, tapi kemampuan memilah kebenaran justru menurun drastis. Fakta menariknya, menurut laporan UNESCO, 7 dari 10 pelajar di dunia masih kesulitan membedakan antara opini dan fakta di internet. Itu artinya, pendidikan modern masih lebih sibuk mengisi kepala, bukan melatih logika.
Dalam banyak keluarga, anak hanya diajari menghafal jawaban, bukan memahami pertanyaan. Mereka belajar dari buku teks, tapi jarang diajak berpikir mengapa sesuatu benar atau salah. Di ruang kelas, yang dihargai adalah hasil, bukan proses berpikir. Maka lahirlah generasi yang pintar menjawab, tapi mudah percaya. Anak yang tahu banyak hal, tapi tak tahu bagaimana menilai kebenarannya.

1. Pendidikan yang Tak Mengajarkan Bertanya
Anak-anak di sekolah sering diajari untuk menemukan jawaban yang “benar”, bukan untuk mempertanyakan apakah pertanyaannya masuk akal. Seorang murid yang banyak bertanya justru dianggap mengganggu kelas. Padahal, filsafat mengajarkan bahwa berpikir dimulai dari keraguan, bukan kepastian. Plato menekankan pentingnya dialektika—seni bertanya dan menjawab—sebagai inti dari pendidikan yang hidup. Di sinilah pendidikan modern sering kehilangan ruhnya.
Anak yang tidak dibiasakan bertanya, lama-lama hanya tahu menerima. Ia percaya pada guru, buku, atau media tanpa menimbang kebenarannya. Maka, ketika dewasa, ia mudah termakan hoaks dan opini populer. Di sinilah pentingnya mendidik anak dengan logika yang hidup—bukan sekadar hafalan mati.
2. Logika Sebagai Benteng dari Manipulasi
Seorang anak yang tak diajari berpikir kritis akan tumbuh menjadi dewasa yang mudah diarahkan. Ia tak mampu membedakan argumen rasional dari retorika yang memikat. Dalam politik, agama, bahkan iklan, banyak yang memanfaatkan celah ini. Ketika logika lemah, emosi mengambil alih kendali, dan kebenaran jadi urusan siapa yang paling pandai bicara.
Contohnya terlihat dalam media sosial hari ini. Anak muda lebih mudah mempercayai influencer ketimbang peneliti. Mereka lebih tergerak oleh narasi dramatis ketimbang data. Di titik inilah pendidikan harus bertransformasi—bukan lagi sekadar mengajarkan “apa yang harus dipercaya”, tetapi “bagaimana cara berpikir sebelum percaya”.
3. Orang Tua yang Sibuk, Anak yang Bingung
Banyak orang tua modern menuntut anaknya mendapat nilai tinggi, tapi jarang mengajaknya berdiskusi. Anak ditinggalkan dengan gawai, sementara rasa ingin tahunya dijawab oleh algoritma, bukan oleh manusia. Akibatnya, yang berkembang bukan kemampuan berpikir, tapi kecepatan konsumsi informasi.
Padahal, dialog sederhana di rumah—seperti menjelaskan mengapa seseorang bisa berbeda pendapat—lebih mendidik daripada seribu kali ujian tertulis. Anak yang terbiasa diajak berpikir akan belajar menunda penilaian, belajar bahwa kebenaran tak selalu hitam-putih.
4. Sekolah yang Mengabaikan Jiwa Intelektual
Sistem pendidikan saat ini sering kali memuja hasil akademik, bukan cara berpikir. Anak yang kreatif, reflektif, dan suka berargumen dianggap tidak disiplin. Padahal, justru di situlah benih kecerdasan sejati tumbuh. Pendidikan yang baik bukan menekan rasa ingin tahu, tapi mengarahkannya.
Guru perlu berubah peran dari pengajar menjadi fasilitator berpikir. Seorang guru yang berani mengatakan “aku tidak tahu, mari kita cari tahu bersama” sesungguhnya sedang mengajarkan kejujuran intelektual yang paling mendasar. Nilai seperti ini tak bisa diajarkan lewat kurikulum, tapi lewat keteladanan berpikir.
5. Dunia Digital, Tantangan Baru Berpikir
Anak-anak hari ini hidup dalam dunia yang menuntut berpikir lebih cepat daripada mendalam. Setiap hari mereka diserbu oleh ribuan informasi yang berlomba menjadi “benar”. Dalam situasi seperti ini, berpikir kritis bukan sekadar kemampuan tambahania menjadi kebutuhan bertahan hidup intelektual.
Di tengah derasnya arus konten, penting bagi anak (dan orang dewasa) untuk tahu cara membaca secara reflektif. Membedakan opini dari fakta, memahami konteks sebelum bereaksi. Di sinilah peran pendidikan filsafat modern yang mulai dihidupkan kembali di banyak sekolah di Eropa: mengajarkan anak cara berpikir sebelum percaya.
6. Kebiasaan Menerima Tanpa Menguji
Kita dibesarkan dengan budaya yang menghargai kepatuhan lebih dari kebenaran. Anak yang menurut dianggap baik, sementara anak yang kritis sering dicap keras kepala. Padahal, dari sikap keras kepala itulah logika tumbuh. Mendidik anak berpikir bukan berarti mendorongnya melawan otoritas, tapi mengajarkan kapan harus setuju dengan alasan yang benar.
Budaya ini harus diubah pelan-pelan. Diskusi harus lebih dihargai daripada hafalan. Anak perlu belajar bahwa tidak semua yang datang dari orang dewasa otomatis benar, dan tidak semua yang populer layak dipercaya.
7. Berpikir Sebagai Bentuk Cinta pada Kebenaran
Plato percaya bahwa berpikir bukan sekadar aktivitas intelektual, tapi bentuk cinta pada kebenaran. Ketika anak diajarkan berpikir, ia sedang diajarkan mencintai kebijaksanaan. Ia belajar bahwa percaya tidak cukup, perlu juga memahami.
Anak yang belajar berpikir tumbuh menjadi manusia yang utuh—yang tidak mudah dimanipulasi, tapi juga tidak keras kepala. Ia terbuka terhadap kebenaran, tapi skeptis terhadap kebohongan. Pendidikan sejati bukan mencetak pengikut, tapi melahirkan pencari kebenaran.
Kalimat Plato ini masih relevan hingga hari ini. Mungkin inilah saatnya kita meninjau ulang bagaimana kita mendidik anak, bukan hanya agar mereka tahu banyak hal, tapi tahu bagaimana menilai kebenaran di baliknya. Kalau kamu setuju pendidikan seharusnya membentuk cara berpikir, bukan sekadar isi kepala, tulis pendapatmu di kolom komentar dan bagikan agar lebih banyak orang sadar: berpikir adalah tanggung jawab moral, bukan sekadar kemampuan intelektual.




