
(oleh : Agus Rohiman)
Delapan puluh tahun bukanlah perjalanan yang sebentar. Ia adalah rentang sejarah yang dipenuhi kisah perjuangan, kesetiaan, dan pengabdian. Ketika PGRI memasuki usia ke-80, kita sesungguhnya sedang menyaksikan perjalanan sebuah organisasi yang lahir dari semangat kebangsaan, tumbuh dari ketulusan pengabdian, dan terus berdiri tegak sebagai suara moral para pendidik Indonesia.
Menjadi bagian dari PGRI adalah kebanggaan yang tidak hanya melekat pada seragam atau kartu anggota, tetapi tertanam dalam hati setiap guru yang memilih berada dalam garis perjuangan pendidikan nasional. Dalam PGRI, kita menemukan identitas sebagai pendidik yang bukan sekadar mengajar, tetapi mengabdi kepada bangsa dan kemanusiaan.
Ketika PGRI didirikan pada tahun 1945, para pendidik waktu itu berdiri di garis depan, menolak tunduk pada penjajah, dan memilih mempertahankan martabat guru Indonesia. Mereka memahami bahwa pendidikan adalah fondasi kemerdekaan. Karena itu, kehadiran PGRI bukan hanya organisasi profesi, ia adalah simbol perlawanan, simbol keberanian, dan simbol cinta para guru pada negeri ini. Kita adalah pewaris sejarah itu.
Selama delapan dekade, PGRI telah menjadi rumah bagi jutaan guru Indonesia. Rumah tempat kita belajar bersuara, berjuang, dan menjaga martabat profesi. Rumah yang mengingatkan kita bahwa menjadi guru tidak pernah mudah, tetapi selalu mulia. Dari masa ke masa, PGRI menegakkan amanatnya: memperjuangkan kesejahteraan, melindungi profesi guru, mendorong mutu pendidikan, dan merawat persatuan pendidik dari Sabang sampai Merauke.
Kita bangga menjadi PGRI karena di sinilah kita merasakan kekuatan kebersamaan. Ketika ada guru yang teraniaya, PGRI hadir. Ketika ada kebijakan yang merugikan guru, PGRI bersuara. Ketika pendidikan Indonesia membutuhkan arah yang jelas, PGRI memberi panduan. Bersama organisasi inilah kita belajar bahwa perjuangan tidak boleh dilakukan sendirian—bahwa suara guru akan jauh lebih kuat ketika bergema dari sebuah rumah besar bernama PGRI.
Delapan puluh tahun PGRI juga merupakan cermin perubahan zaman. Dulu guru berjuang melawan penjajahan. Kini guru berjuang menghadapi tantangan digitalisasi, ketimpangan kualitas pendidikan, dan perubahan karakter generasi. Namun semangatnya tetap sama: guru adalah garda depan peradaban. Guru adalah cahaya yang tidak boleh padam. Dan PGRI adalah penjaga yang memastikan cahaya itu tetap menyala.
Di balik setiap murid yang sukses, ada guru yang mengabdikan hidupnya. Dan di balik setiap guru yang teguh, ada organisasi yang selalu mendampingi: PGRI. Itulah mengapa rasa bangga ini bukan sekadar slogan, melainkan kesadaran bahwa kita adalah bagian dari sejarah penting bangsa ini.
Tema HUT ke-80, “Guru Bermutu, Indonesia Maju – Bersama PGRI Wujudkan Indonesia Emas,” bukan sekadar ajakan, tetapi janji. Janji bahwa guru Indonesia tidak akan berhenti belajar. Tidak akan berhenti memperjuangkan pendidikan yang memanusiakan. Tidak akan berhenti mengabdi hingga Indonesia benar-benar maju, berdaya, dan bermartabat.
Hari ini, ketika kita mengenang 80 tahun perjuangan PGRI, marilah kita berdiri dengan penuh kebanggaan. Karena kita adalah keluarga besar yang telah melewati krisis, menghadapi badai kebijakan, dan tetap kokoh membela hak-hak guru. Kita adalah penjaga masa depan anak bangsa. Kita adalah pewaris amanat luhur pendidikan Indonesia.
Bangga menjadi PGRI berarti bangga menjadi bagian dari sejarah.
Bangga menjadi PGRI berarti bangga menyalakan lentera pengetahuan.
Bangga menjadi PGRI berarti bangga mengabdi untuk negeri ini tanpa henti.
Selamat Hari Ulang Tahun ke-80 PGRI.Kita bangga menjadi bagian darinya.
Kita bangga menjadi guru Indonesia.




