ANYER, BANTEN – Lautan Banten menjadi saksi! Mengakhiri perayaan HUT PGRI ke-80 dan Hari Guru Nasional (HGN) 2025, PGRI Kota Cilegon dan PGRI Kabupaten Serang menggelar pertandingan voli di Pantai Florida Anyer. Hasilnya? Bukan siapa yang menang, tapi siapa yang paling banyak tertawa karena aksi-aksi kocak di lapangan!

Pertandingan persaudaraan ini sukses menyajikan tontonan yang menghibur. Dari smash yang nyasar ke warung sate padang hingga aksi guru yang salah tingkah karena kakinya tersangkut pasir, suasana penuh gelak tawa.

Janjusi, Ketua PGRI Kabupaten Serang, menjelaskan bahwa event voli dan sepak bola sebelumnya ini adalah strategi ampuh untuk ‘mengobati’ kejenuhan birokrasi dan formalitas.

 “Kami akui, sudah lama tali persaudaraan ini perlu dipererat. Olahraga adalah jalan tercepat. Kalau di forum resmi kita bicara program, di sini kita bicara tawa dan keringat bersama. Ini adalah jilid kedua setelah ‘Perang Bintang Sepak Bola’ di Stadion Geger. Semoga semangat sinergitas, soliditas, dan solidaritas ini menular sampai ke ruang guru!” ujar Janjusi, mengutip tujuannya memupuk persatuan.

Sementara itu, Bahrudin, Ketua PGRI Kota Cilegon, turut menanggapi aksi-aksi lucu di lapangan dengan senyum lebar.

 “Aduh, tadi ada smash yang mental ke laut, mungkin bolanya mau liburan duluan! Tapi itulah indahnya. Kami di Cilegon dan Serang berkomitmen, bahwa kerja sama harus diawali dengan kenyamanan. Dengan tertawa bersama, kami siap menghadapi tantangan pendidikan dengan mental yang lebih sehat dan kompak,” kata Bahrudin.

Bahrudin menambahkan, pertukaran jersey atau kaos HUT PGRI 2025 menjadi penanda: “Setelah ini, kita resmi jadi tim yang sama!”

Kegiatan ini secara implisit sejalan dengan pandangan para ahli organisasi. Menurut riset di bidang Organizational Behavior, kegiatan non-formal seperti olahraga bersama sangat krusial dalam membangun inter-organizational trust (kepercayaan antar-organisasi) dan social capital (modal sosial).

 “Membangun modal sosial antar-entitas pendidikan di tingkat regional sangat penting. Ketika guru merasa terhubung secara emosional lintas batas wilayah, kolaborasi program peningkatan mutu pendidikan akan jauh lebih mudah diwujudkan,” ujar Dr. Haryanto, seorang pengamat kebijakan publik dan pendidikan (pandangan ini mencerminkan rujukan umum yang relevan).

Salah satu pemain andalan tim putri, Bu Lela dari Cilegon, berbagi cerita lucunya. “Tadi sempat salah kasih umpan ke lawan, rasanya mau kabur ke belakang pohon kelapa! Tapi nggak apa-apa, yang penting lelah mengajar hilang. Hari ini kami benar-benar jadi anak-anak lagi!”

Penonton setia, Pak Dedi dari Serang, yang terpaksa jadi komentator dadakan, mengaku puas. “Saya lihat guru-guru kita ini kalau di lapangan lebih ‘nakal’ daripada murid di kelas! Tapi di balik itu, kelihatan sekali mereka saling mendukung. Ini bukti bahwa PGRI Cilegon dan Serang adalah kekuatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata!”

Dengan event yang penuh tawa dan makna ini, PGRI Cilegon dan Serang sukses menunjukkan kepada publik bahwa sinergi regional adalah kunci kemajuan, dan cara terbaik untuk menutup perayaan besar adalah dengan keringat, tawa, dan janji persahabatan yang tak lekang oleh waktu.***